WAROPEN | TOPBERITA.CO.ID — Di tengah memanasnya konflik sengketa hak ulayat tanah adat yang sempat berujung aksi pemalangan hingga bentrokan antar warga di kawasan Batu Zaman, Bupati Waropen akhirnya turun langsung menemui keluarga besar Watopa di Paradoi, Minggu (17/05/2026).
Langkah cepat orang nomor satu di Kabupaten Waropen itu dilakukan usai melaksanakan ibadah Minggu pagi di Jemaat GBGP Silo Paradoi.
Didampingi Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Waropen, Perwira Penghubung, serta Bhabinkamtibmas Kampung Paradoi dari Polres Waropen, Bupati Waropen, Fransiskus Xaverius Mote, hadir langsung di tengah keluarga besar Watopa guna membuka ruang dialog dan meredam ketegangan yang beberapa hari terakhir menyita perhatian masyarakat.
Suasana pertemuan berlangsung penuh kekeluargaan. Warga adat yang sebelumnya melakukan pemalangan terhadap sejumlah kantor pemerintahan tampak menyambut kedatangan pemerintah daerah dengan terbuka.
Dalam penyampaiannya, Bupati Waropen menegaskan bahwa pemerintah hadir bukan untuk memperkeruh persoalan adat, melainkan menjadi pengayom dan pelindung seluruh masyarakat tanpa membeda-bedakan kelompok maupun suku.
“Sebagai pemerintah, kami hadir di tengah masyarakat untuk menjaga, mengayomi, dan melindungi seluruh masyarakat. Masalah yang terjadi di masyarakat menjadi tanggung jawab pemerintah untuk bagaimana kehidupan itu bisa berjalan baik dan damai,” ujar Fransiskus Xaverius Mote.
Ia mengakui persoalan sengketa antara keluarga besar Watopa dan Wonatorei bukan persoalan baru, melainkan konflik lama yang telah berlangsung sejak tahun 2008 dan hingga kini belum menemukan penyelesaian permanen.
Menurut Bupati, pemerintah daerah sebelumnya telah memfasilitasi proses mediasi bersama kedua belah pihak melalui pertemuan di Kantor Polres Waropen. Namun proses tersebut sempat diskors dan akan kembali dilanjutkan dalam waktu dekat.
“Hari ini saya menyampaikan kepada keluarga besar Watopa maupun Wonatorei bahwa kita akan melanjutkan kembali pertemuan penyelesaian yang sempat diskors. Pertemuan itu akan dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2026 di Kantor Kepolisian di Waren,” katanya.
Ia berharap kedua pihak dapat hadir dengan tenang serta mengedepankan perdamaian demi menjaga situasi keamanan di Waropen tetap kondusif.
“Saya berharap persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik dan damai sebagai satu keluarga besar. Pemerintah tidak mencampuri langsung urusan lembaga adat, tetapi pemerintah tetap bertugas menjaga dan melindungi seluruh masyarakat Waropen,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga mengajak masyarakat menjaga stabilitas daerah menjelang kunjungan kerja Gubernur Papua ke Kabupaten Waropen.
“Saya berharap seluruh masyarakat mendukung kunjungan Gubernur Papua agar dapat berjalan baik di Waropen dan selanjutnya ke daerah lain,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Suku atau Sera Watopa, Paulus Seruma, menyampaikan bahwa keluarga besar Watopa menghormati langkah mediasi yang dilakukan pemerintah daerah.
Ia menegaskan bahwa berdasarkan hasil pertemuan bersama pemerintah daerah dan aparat keamanan, pihak keluarga besar Watopa secara resmi membuka kembali palang yang sebelumnya dipasang di sejumlah kantor pemerintahan kawasan Batu Zaman.
“Dari hasil pertemuan bersama Bapak Bupati, Perwira Penghubung, serta pihak kepolisian yang diwakili Bhabinkamtibmas Kampung Paradoi, maka dengan resmi hari ini palang dibuka agar pembangunan dan aktivitas pemerintahan dapat berjalan baik,” ujar Paulus Seruma.
Meski palang telah dibuka, proses penyelesaian sengketa adat antara keluarga besar Watopa dan Wonatorei dipastikan tetap berlanjut melalui forum mediasi yang dijadwalkan berlangsung pada 20 Mei mendatang.
Pembukaan palang tersebut menjadi sinyal positif meredanya ketegangan yang sebelumnya sempat memicu kekhawatiran masyarakat, sekaligus membuka harapan baru bagi penyelesaian konflik adat secara damai di Kabupaten Waropen.











