“Di saat banyak generasi mulai lupa akar, masyarakat adat Keret Sirami justru bangkit menata ulang sejarah, menjaga hak, dan mengunci identitas dari tanah Waropen.”
TOPBERITA.CO.ID | WAROPEN – Di bawah langit sore Kampung Ghoyui Paradoi, Distrik Urei-Faisei, Rabu (25/3/2026), satu peristiwa adat yang sarat makna kembali menggetarkan tanah leluhur. Bukan sekadar seremoni, tetapi momentum kebangkitan identitas: Pengukuhan Struktur Lembaga Adat Keret Sirami.
Bertempat di kediaman Bapak As. Ramandei (Worumboi), keluarga besar Marga Keret Sirami berkumpul. Tua-muda, laki-laki-perempuan, semua hadir sebagai saksi sejarah. Mereka datang bukan hanya untuk melihat pelantikan, tetapi untuk menyambung kembali benang merah silsilah yang nyaris kabur ditelan zaman.
*Struktur Baru, Harapan Baru*
Dalam pengukuhan itu, ditetapkan struktur adat Keret Sirami sebagai berikut:
- SERA: Dirk Worumboi (Mata Rumah Sanggaturei)
- ESO: Meno Yoab Sirami/Ghoay (Mata Rumah Ghoay)
- MOSABA: Salomina Worumboi/Ghoay (Mata Rumah Ghoay)
- KORANO: Yance Worumboi (Mata Rumah Serewi Munggari)
- WARIBO: Lamber Masini (Mata Rumah Masini Yorani)
- WIMABO: Ewana Sirami (Mata Rumah Woindunapa)
Sementara para saksi adat yang menguatkan legitimasi pengukuhan ini berasal dari lima mata rumah utama: Ghoay, Sanggaturei, Masini Yorani, dan Woindunapa.
*Konsolidasi dari Bawah: Menata Adat, Menjaga Hak*
Ketua Dewan Adat Kabupaten Waropen, John Imbiri, menegaskan bahwa proses ini bukan seremonial belaka, tetapi bagian dari strategi besar: konsolidasi adat dari akar.
“Kita mulai dari keret. Dari silsilah. Dari siapa yang tua. Dari situ ada pengakuan. Baru kita naik ke tingkat suku, lalu ke masyarakat Waropen secara luas,” tegasnya.
Menurutnya, penataan ini sangat krusial di tengah derasnya arus perubahan budaya. Tanpa penguatan dari dalam, masyarakat adat berisiko kehilangan identitas bahkan hak-haknya sendiri.

Ia juga mengingatkan bahwa batas wilayah adat, hubungan antar marga, hingga struktur kekeluargaan harus diperjelas agar tidak menjadi sumber konflik di kemudian hari.
“Kalau kita tidak mulai dari sekarang, kita bisa lupa siapa kita. Ini bukan hanya soal adat, tapi soal masa depan,” ujarnya tajam.
*SERA Terpilih: Beban Sejarah di Pundak Generasi Kini*
Sera terpilih, Dirk Worumboi, tidak menyembunyikan beratnya tanggung jawab yang kini ia emban.
“Ini pekerjaan yang ditinggalkan orang tua. Sesuatu yang kabur, tapi hari ini mulai terjawab. Ini bukan akhir, ini awal,” ungkapnya penuh haru.
Dirk menegaskan bahwa langkah berikutnya adalah melakukan sosialisasi menyeluruh kepada lima mata rumah dalam Keret Sirami: Ghoay, Sanggaturei, Serewi Munggari, Masini Yorani, dan Woindunapa.
Targetnya jelas: membuka kembali sejarah dari moyang hingga generasi sekarang.
“Kita akan duduk bersama, buka semua. Dari atas sampai ke anak-anak sekarang. Supaya tidak ada lagi yang hilang,” katanya.
Ia juga menyoroti persoalan diaspora anggota keret yang merantau dan mulai kehilangan jejak adatnya.
“Yang di kampung mungkin jelas. Tapi yang di luar? Mereka juga anak adat. Ini tugas kami untuk kembalikan itu,” tegasnya.
*Prosesi Adat: Pengakuan yang Sakral*
Tak berhenti pada pelantikan, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan prosesi adat dari masing-masing marga. Prosesi ini menjadi simbol pengakuan resmi terhadap Sera yang telah dilantik sebuah legitimasi yang tidak hanya administratif, tetapi spiritual dan kultural.
*Lebih dari Sekadar Acara*
Pengukuhan ini menjadi penanda bahwa masyarakat adat Waropen, khususnya Keret Sirami, sedang bergerak. Bergerak untuk menata diri, memperkuat identitas, dan menjaga warisan leluhur dari ancaman kepunahan nilai.
Di tengah modernitas yang kian mendesak, suara dari Kampung Ghoyui Paradoi ini menjadi pengingat: Bahwa adat bukan masa lalu. Ia adalah fondasi masa depan.**(Gerson Yonas Worumboy)












