Hasil laut melimpah, namun keterbatasan pasar dan penyimpanan membuat nelayan hanya menangkap untuk kebutuhan harian.
SERIES LIPUTAN KHUSUS | MASA DEPAN NELAYAN WAROPEN
WAROPEN | TOPBERITA.CO.ID — Pagi baru saja pecah di pesisir Kampung Urfas III ketika sejumlah perahu nelayan mulai kembali dari laut membawa hasil tangkapan.
Ikan, udang hingga kepiting sebenarnya melimpah di perairan Waropen. Namun bagi nelayan tradisional, hasil laut yang besar belum sepenuhnya memberi kesejahteraan.
Masalah utama yang dihadapi nelayan bukan lagi soal menangkap ikan, melainkan bagaimana menjual hasil tangkapan mereka.
“Kendalanya itu pasar. Kalau ikan banyak tapi pembeli tidak ada, nelayan akhirnya hanya menangkap secukupnya saja,” kata Ketua Tim Survei KNMP dari Direktorat Kepelabuhanan Perikanan KKP, Akmal Dwi Nugraha.
Menurut Akmal, keterbatasan fasilitas penyimpanan ikan membuat nelayan tidak dapat menyimpan hasil tangkapan dalam waktu lama.
Akibatnya, sebagian besar nelayan memilih melaut satu hari dan langsung menjual hasil tangkapan di hari yang sama.
“Kalau besok tidak ada pasar, mereka juga bingung mau simpan di mana,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat potensi besar perikanan Waropen belum berkembang optimal.
Padahal menurut Dinas Perikanan Kabupaten Waropen, hasil laut di wilayah pesisir Waropen sangat menjanjikan jika didukung sistem pemasaran dan penyimpanan yang baik.
Melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, pemerintah berharap persoalan itu perlahan bisa diatasi.
Liputan Khusus: Masa Depan Nelayan Waropen
Laporan berseri mengenai potensi perikanan, kehidupan masyarakat pesisir, serta pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Kabupaten Waropen.
Reporter: Echon Papuansphoto
Lokasi Liputan: Kampung Urfas III, Distrik Urei Faisei, Kabupaten Waropen.











