KOBA,TOPBERITA,Co.id.– Momentum Ulang tahun kabupaten Bangka tengah ke 23. Seharusnya menjadi cermin refleksi atas perjalanan pembangunan dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Namun, di balik kemeriahan perayaan yang berlangsung, realitas di lapangan menunjukkan potret sosial yang kontras dan keluhan warga yang masih menyentuh persoalan mendasar.
Persoalan klasik seperti angka pengangguran yang belum melandai secara signifikan, hingga maraknya aksi “ninja sawit” atau pencurian buah sawit, kian meresahkan petani lokal. Tak hanya itu, daerah ini juga dibayangi rapor merah terkait meningkatnya kasus pencabulan serta kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kondisi ini diperparah dengan carut-marut tata kelola pertimahan dan investasi yang dinilai minim kontribusi. Salah satu yang sorotan tajam adalah keberadaan perusahaan tambak udang yang dianggap belum memberikan kebermanfaatan nyata bagi warga sekitar. Lemahnya pengawasan dari DPRD serta ketegasan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam menindak persoalan limbah perusahaan menjadi isu menahun yang tak kunjung menemui titik terang
Ketua LBH Milenial sekaligus aktivis hukum, Bung Dodoy, memberikan catatan kritis terhadap kondisi sosial di Kota Koba. Ia menilai bahwa maraknya kriminalitas di sektor perkebunan merupakan sinyal adanya ketimpangan ekonomi.
”Fenomena ‘ninja sawit’ bukan sekadar isu kriminalitas biasa, melainkan cerminan dari persoalan ekonomi, keamanan, dan tata kelola yang belum sepenuhnya teratasi oleh pemerintah setempat,” tegas Bung Dodoy s Kamis,24/2/2026.
Lebih lanjut, Bung Dodoy menyatakan bahwa hari jadi daerah semestinya tidak hanya menjadi agenda seremonial bagi para pejabat. Menurutnya, momentum ini harus menjadi ruang evaluasi dan komitmen nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat melalui kebijakan yang konkret dan terukur.
Di sisi lain, sebagian masyarakat menilai geliat pembangunan dan kemajuan ekonomi di Kabupaten Bangka Tengah belum dirasakan secara merata. Harapan akan terciptanya lapangan kerja baru serta penguatan keamanan lingkungan masih menjadi “pekerjaan rumah” besar bagi pemangku kepentingan.
Kota Koba sejatinya memiliki potensi besar. Namun, tanpa langkah terarah dalam menangani pengangguran dan mempercepat pembangunan ekonomi yang inklusif, masyarakat dikhawatirkan akan terus merasa “berjalan di tempat”.
Hari jadi ini hendaknya menjadi titik balik bagi pengambil kebijakan. Masyarakat tidak lagi menanti simbol-simbol perayaan, melainkan kerja nyata yang berdampak langsung pada isi dapur dan rasa aman mereka di rumah.Red.












