JAYAPURA | TOPBERITA.CO.ID – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua mulai mematangkan persiapan pelaksanaan rukyatul hilal untuk penentuan awal 1 Syawal 1447 Hijriah.
Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar di Musala Al-Ikhlas Kanwil Kemenag Papua, Selasa (10/3/2026), dengan melibatkan unsur Urusan Agama Islam (Urais) dan Bina Syariah, tim falakiyah, serta Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura.
Rapat membahas kesiapan teknis, mulai dari penentuan lokasi pemantauan, waktu pelaksanaan, hingga personel yang akan diterjunkan dalam pengamatan hilal.
Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam Kanwil Kemenag Papua, Muslimin Yalipele, menegaskan pelaksanaan rukyatul hilal merupakan bagian penting dalam penetapan awal bulan Hijriah sesuai tuntunan syariat Islam.
“Karena ini berkaitan dengan tuntutan syariah, maka penetapan awal bulan harus menggunakan alat dan metode yang dapat membantu melihat posisi hilal secara langsung,” ujar Muslimin.
Menurutnya, waktu pelaksanaan rukyat secara nasional telah ditetapkan, sehingga daerah kini tinggal memastikan kesiapan teknis pelaksanaan di lapangan.
Ia berharap melalui koordinasi ini, proses pengamatan hilal di Papua dapat berjalan optimal dan menghasilkan laporan yang akurat sebagai bahan sidang isbat nasional.
Sementara itu, Pranata Meteorologi dan Geofisika Muda BBMKG Wilayah V Jayapura, Muhammad Syawal, menyampaikan gambaran awal kondisi astronomis hilal di Papua.
Berdasarkan data BMKG, pengamatan hilal akan difokuskan di wilayah Merauke pada 19 Maret 2026.
“Pada 19 Maret, ketinggian hilal di Merauke diperkirakan berada pada 0,9606 derajat dengan elongasi 4,04 derajat serta fraksi iluminasi bulan sekitar 0,12 persen,” jelas Syawal.
Meski nilai ketinggian hilal sudah positif, ia menilai kemungkinan hilal terlihat masih sangat kecil.
“Nilainya memang positif, tetapi kemungkinan hilal sangat sulit terlihat karena posisinya masih sangat tipis di atas horizon,” katanya.
Kendati demikian, BMKG memastikan tetap mendukung penuh proses rukyatul hilal melalui penyediaan data astronomi dan koordinasi teknis bersama Kementerian Agama.
Ketua Tim Urais dan Bina Syariah Kanwil Kemenag Papua, Aminah, mengatakan rapat ini penting untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal nasional.
“Pertemuan hari ini salah satunya untuk membahas lokasi pelaksanaan rukyatul hilal dan siapa saja yang akan terlibat dalam pengamatan,” ujarnya.
Aminah mengingatkan bahwa meskipun data astronomis menunjukkan peluang hilal sulit terlihat, pengamatan tetap wajib dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar ilmiah dan keagamaan.
“Walaupun laporan menunjukkan kemungkinan hilal sangat tipis atau sulit terlihat, kita tidak pernah tahu ketetapan Allah ke depan. Karena itu kita tetap berusaha melakukan pengamatan dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Tim Falakiyah Provinsi Papua, Hendra Yulia Rahman.
Menurutnya, rukyatul hilal bukan hanya agenda keagamaan, tetapi juga bagian dari amanat negara dalam menentukan awal bulan Hijriah.
“Penentuan 1 Syawal merupakan bagian dari proses yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Karena itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan tugas negara,” ujarnya.
Hendra menambahkan, berdasarkan sejumlah perhitungan astronomis, posisi hilal pada periode tersebut masih tergolong sangat tipis sehingga peluang terlihat relatif kecil.
Meski begitu, hasil akhir tetap menunggu laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah di Indonesia sebelum diputuskan dalam sidang isbat pemerintah.
“Kalau melihat data kriteria yang digunakan, kemungkinan besar hilal masih sulit terlihat. Namun hasil akhirnya tetap menunggu laporan dari seluruh wilayah,” pungkasnya.**(Humas/Red)











