JAYAPURA, TOPBERITA.CO.ID – Kapolresta Jayapura Kota, Kombes Pol Fredrickus W. A. Maclarimboen, S.I.K., M.H., CPHR, menegaskan bahwa Jalan Ahmad Yani merupakan ruang ingatan kolektif yang menyimpan sejarah panjang perjalanan Kota Jayapura. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Festival Colo Sagu 2026, yang mengangkat tema bincang-bincang “Mengenang Kembali Cerita Jalan Ahmad Yani di Jantung Kota Jayapura”, yang berlangsung pada Jumat malam, 31 Januari 2026.
Menurut Kapolresta, Jalan Ahmad Yani bukan sekadar ruas jalan, melainkan pusat kehidupan kota sejak masa awal Jayapura berdiri. Di kawasan inilah denyut pemerintahan, dinamika sosial, hingga jejak sejarah Perang Dunia II pernah berlangsung.
“Ingatan hari ini benar-benar membawa kita kembali pada Jalan Ahmad Yani. Banyak orang punya cerita, punya sejarah, dan kenangan dengan jalan ini. Sejak awal, jalan ini adalah jantung ibu kota Jayapura dan menyimpan banyak peristiwa penting,” ujar Fredikus.
Ia menilai, selama ini Jayapura belum optimal mengangkat potensi wisata sejarah, padahal kota ini memiliki kekayaan narasi yang kuat. Jalan Ahmad Yani, dengan perubahan nama dan peran kota dari masa ke masa, menjadi bukti bahwa Jayapura tumbuh dari sejarah panjang yang layak diceritakan kembali kepada generasi muda.
“Kota-kota lain menjual sejarah dan mendapatkan nilai ekonomi dari sana. Kita punya sejarah dan cerita yang banyak, tapi belum dikemas dengan baik. Momentum seperti ini seharusnya menggugah kita semua,” kata Kapolresta.
Festival Colo Sagu 2026 sendiri dikemas dalam suasana dialog terbuka dan santai di ruang luar (outdoor). Konsep ini, menurut Fredikus, sengaja dipilih agar diskusi berjalan alami—ngopi bersama, menikmati sagu, sambil berbagi cerita tentang masa lalu Jayapura tanpa suasana formal.

Dalam kegiatan tersebut hadir sebagai narasumber Wakil Wali Kota Jayapura Ir. H. Rustan Saru serta wartawan senior Papua Wolas Krenak, yang membagikan kisah dan pengalamannya tentang Jalan Ahmad Yani pada masa lampau. Turut hadir pula pimpinan media lokal Papua Viktor Mambor dari Jubi, jajaran staf Polresta Jayapura Kota, masyarakat, serta para jurnalis.
Kapolresta menjelaskan, pemilihan pangan lokal berbasis sagu dalam Festival Colo Sagu bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari kampanye identitas dan kedaulatan pangan Papua.
“Ketika kita bicara Colo Sagu, kita membayangkan dapur dengan forno yang berasap. Kalau forno berasap, berarti ada kehidupan di rumah itu. Itu pesan yang ingin kami sampaikan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung minimnya literasi sejarah terkait bangunan-bangunan tua di Kota Jayapura, termasuk gedung-gedung peninggalan Belanda yang hingga kini masih digunakan, salah satunya di lingkungan Polresta Jayapura Kota.
“Bangunan ini punya sejarah, tapi informasinya masih sangat terbatas. Ini yang perlu kita gali bersama agar masyarakat tahu nilai sejarah kota ini,” ujarnya.
Fredikus menegaskan, Festival Colo Sagu bukanlah kegiatan seremonial semata, melainkan wadah untuk membangun kesadaran bersama tentang potensi daerah baik wisata sejarah, alam, maupun kuliner lokal. Ke depan, kegiatan serupa akan terus dikembangkan dengan menyesuaikan momentum dan situasi.
“Jayapura hari ini ada karena masa lalu. Sejarah dan cerita itu yang harus kita jaga, kita angkat, dan kita wariskan,” pungkas Kapolresta.**
(Redaksi)












