BeritaNasionalPemerintahan

Hilal Tak Terlihat di Papua, Lebaran 2026 Berpotensi Berbeda? Ini Hasil Rukyat di Merauke

42
×

Hilal Tak Terlihat di Papua, Lebaran 2026 Berpotensi Berbeda? Ini Hasil Rukyat di Merauke

Sebarkan artikel ini
pemantauan hilal 1 Syawal 1447 Hijriah di Pos Observasi Bulan Merauke, Papua, Kamis (19/3/2026). Hasil pengamatan menunjukkan hilal tidak terlihat sehingga penentuan Hari Raya Idulfitri menunggu keputusan Sidang Isbat pemerintah.

TOPBERITA.CO.ID | MERAUKE – Hilal penanda masuknya 1 Syawal 1447 Hijriah tidak terlihat di wilayah Provinsi Papua saat pemantauan yang dilakukan di Pos Observasi Bulan Merauke, Kamis (19/3/2026). Kondisi ini membuat penetapan Hari Raya Idulfitri 2026 masih menunggu hasil Sidang Isbat pemerintah.

Pengamatan hilal tersebut dilaksanakan oleh Tim Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua bersama Tim Falakiyah serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V, dengan melibatkan unsur pemerintah daerah dan organisasi Islam.

Mewakili pemerintah daerah, Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze menyampaikan bahwa pihaknya bersama masyarakat akan mengikuti keputusan resmi pemerintah terkait penetapan Lebaran.

“Kami pemerintah daerah bersama masyarakat akan mengikuti keputusan terbaik yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama serta menghargai keputusan ormas Islam,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua, Klemens Taran, menegaskan bahwa penentuan awal bulan hijriah, termasuk Syawal, mengacu pada kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Ia menjelaskan, hilal dinyatakan terlihat apabila memenuhi dua syarat utama, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

“Perbedaan metode dalam penentuan awal bulan adalah hal yang lumrah. Yang terpenting bagaimana kita menjaga persatuan dan menyikapinya dengan bijak,” jelasnya.

Berdasarkan data BMKG, konjungsi atau fase bulan baru (ijtimak) terjadi pada pukul 10.23.23 WIT. Namun saat matahari terbenam, posisi hilal masih berada di bawah kriteria visibilitas.

Kepala Stasiun BMKG Merauke, Wahyu Hidayat, menyebutkan bahwa tinggi hilal hanya mencapai 0,91 derajat dengan elongasi 4,04 derajat.

“Dengan posisi tersebut, secara teori hilal sangat sulit diamati,” ungkapnya.

Meski demikian, kegiatan rukyat tetap dilaksanakan sebagai bagian dari verifikasi lapangan terhadap hasil hisab serta kontribusi data dalam Sidang Isbat.

Ketua Tim Falakiyah Provinsi Papua, Hendra Yulia Rahman, memastikan bahwa dalam pengamatan tersebut hilal tidak terlihat.

“Secara kriteria imkanur rukyat, hilal sulit terlihat dan dapat dipastikan tidak terlihat,” tegasnya.

Hasil pemantauan ini selanjutnya menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat yang akan digelar Kementerian Agama RI pada pukul 19.00 WIB di Jakarta, guna menetapkan awal 1 Syawal 1447 H secara nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *